Korea Trip The Series: Myeongdong

by - April 25, 2017



Trip ke Korea bisa dibilang kado dari perayaan 20 tahun saya dan suami pertama kali bertemu. Dipilih bulan Oktober karena pada bulan itulah pertemuan kami pertama kalinya . Dan mengapa ke Korea? Hmm..! Awalnya memang pemilihan tujuan travelling menjadi ajang perdebatan yang ramai. Sebagai seorang ibu muda yang lumayan (lumayan? Ibu muda?) menyukai drama Korea, bisa merasakan atmosfer negara para Oppa ganteng secara langsung merupakan suatu bucket list.

Namun, suami yang baru mendengar soundtrack dari serial tersebut sudah melengoskan wajah, rasanya beratttt sekali untuk sependapat. Ia memiliki destination idaman lain, dimana negara itu ada unsur kopi yang enak serta alam yang indah (dimana coba ?). Okelah..! Singkat kata, kali ini istri menang, dan akhirnya kamipun memesan tiket tujuan Denpasar - Seoul. 

Kami berangkat dari bandara Ngurah Rai, Bali pada pukul 01.25 dini hari waktu Bali. Maskapai yang kami gunakan Korean Air yang merupakan maskapai milik negeri gingseng tersebut. Ini merupakan penerbangan langsung dari Bali ke Incheon Seoul. Waktu penerbangan kurang lebih 7 jam. Untuk harga tiket Korean Air rata-rata 5 juta rupiah untuk sekali berangkat. Namun kali ini kami mendapatkan tiket hasil penukaran miles dari frequent flyer suami, jadi untuk tiket keberangkatan kami zero rupiah. Yeayyy...! Tidak ada yang spesial dari kabin ekonomi pesawat Korean air. Sama dengan Garuda atau maskapai sekelasnya. Justru yang menjadi perhatian saya adalah aksesoris sanggul dari pramugari. Cepol kecil mereka dihias dengan jepit yang menyerupai "sedotan" bambu. Mengingatkan pada puteri puteri era Joseon pada drama-drama sageuk yang pernah saya tonton.

Image result for korean air flight attendant
gbr. 1 : Seperti ini aksesoris pramugari Korean Air. Cantik sekali . Pengen sekali beli buat Lil' A



Karena ini penerbangan malam. Jadi sepanjang penerbangan kami tidur dan tidak banyak mempergunakan fasilitas entertainment pesawat. Pada pukul 9.15 waktu Seoul akhirnya pesawat mendarat dengan selamat di Incheon Airport.

Setelah menyelesaikan urusan imigrasi dan bagasi, kamipun memutuskan menukarkan Dollar Amerika dengan Won Korea di airport. Rate yang tersedia juga baik. Saat itu 1 USD kira-kira 1129 Won Korea. Kami juga menyewa pocket wifi untuk modem jaringan internet seluler. Karena untuk pembelian simcard disana lebih mahal dan prosedurnya rumit sekali. Pocket wifi yang kami sewa kurang lebih seharga 5 Dollar USD dengan security deposit 30 USD. Security deposit akan dikembalikan apabila kita mengembalikan wifi tersebut. Harga itu untuk paket data 1 GB yang bisa mencakup maksimal 5 seluler. Buat yang tidak ingin sewa menyewa atau membeli internet sebetulnya di Seoul banyak free wifi termasuk di fasilitas umumnya. Hanya waktu itu, kurang yakin saja akan kekuatan sinyal jaringan apabila dibutuhkan. Maklum saja, ini kali pertama kami pergi berdua tanpa membawa anak-anak. Sehingga komunikasi intens pasti akan diperlukan saat kami berpisah.

Dari Incheon ke Seoul jaraknya cukup jauh. Jadi Incheon airport berada dipinggir kota Seoul. Banyak moda transportasi untuk menuju ke sana. Pilihannya ada taxi yang tarif argo sangat mahal. Kemudian bis yang pilihannya ada bus deluxe dengan tarif kurang lebih 14 ribu -16 ribu Won serta bus standard dengan tarif 9-10 ribu Won yang hanya sampai city centre Seoul saja. Selain bus, ada juga kereta. Kereta bandara bernama Airport Railroad Express. Tiketnya seharga 8000 Won . Saat itu kami memutuskan untuk mencoba naik kereta, alasannya simple karena ingin merasakan bagaimana sih kereta bandaranya Korea .

gbr.2 : Suami berpose di depan gerbong Railroad Express.

Perjalanan ditempuh kurang lebih 45 menit. Suhu di bulan Oktober waktu itu sekitar 15 derajat Celcius. Cukup dingin bagi darah tropis seperti kami. Karena hari masih pagi, sesampainya di Myeongdong Exit 4 yang merupakan gate tempat tujuan, kami memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu di coffee shop sebelum check in hotel. Seoul memiliki kontur wilayah naik turun serta banyak tanjakan. Jadi hitung-hitung bakar kalori mengitari Myeongdong sambil mengeret koper. ☺ 

Setelah mempelajari peta, kami akhirnya berhasil menemukan hotel yang telah dibooking. Seperti saya bilang sebelumnya, saya ingin merasakan atmosfer Seoul secara original maka pilihan hotelpun di luar kebiasaan. Suami hanya mengelengkan-gelengkan kepala (sambil mengurut dada meminta kesabaran Yang Diatas 👅 ) begitu saya mengambarkan suasana hotel yang akan kami tempati. Untuk hotel akan saya tulis pada postingan yang berbeda.

Myeongdong terletak di pusat kota Seoul. Disini tempatnya kosmetik - kosmetik Korea mengelar gerai eksklusif mereka. Selain itu, street foods yang mengiurkan dijajakan secara atraktif seperti Tteokboki atau kue beras dengan saus pedas, Korean egg toast, fishcake, Gyearan Bbang alias roti kukus dengan kuning telur ditengahnya dan  masih banyak lagi kudapan menggiurkan nan semerbak berkumpul di distrik ini. 
gbr.3 : Street foods beraneka ragam di Myeongdong.

Ada hal lucu sekaligus menjengkelkan pada hari pertama saya di Seoul. Saat mencoba untuk pertama kalinya Tteokboki atau kue beras, saya menanyakan apakah rasanya sudah cukup pedas kepada penjual. Entah ahjussi penjual (paman dalam bahasa Korea) yang kurang mengerti bahasa Inggris atau memang bahasa Inggris saya yang belepotan, pokoknya saya berasumsi bahwa ia menjelaskan tteokboki tidak cukup spicy dan perlu ditambah saus, apalagi tangan si ahjussi ribut menunjuk beragam saus yang penampakannya sama yaitu merah menyala semua. Kemudian ia menunjuk salah satu saus sambil mengacungkan jempol . Oh..! Oke..! Berarti ini saus yang paling tepat buat si tteokboki yang (katanya) kurang spicy. Tanpa ragu-ragu saya mengambil lebih dari satu sendok penuh ke dalam mangkok kue beras. Suami yang melihat, mencoba memperingatkan untuk menambahkan sedikit dulu siapa tahu rasanya tidak cocok dengan selera. Saya ngotot bahwa rasanya enak, terlihat dari orang-orang yang makan jajanan ini di drakor (Duhh! Benar-benar emak korban drama Korea). Namun..! Begitu menyuap Tteokboki hasil racikan saya tersebut. Rasa panas, pedas seperti meledak di dalam mulut. Ternyata setelah diprotes ia mengkonfirmasi bahwa saus yang diberi jempol tadi merupakan saus dengan level rasa pedas paling tinggi. Alhasil si kue beras berakhir di dalam kotak sampah karena saya tidak sanggup menghabiskannya. Sementara suami berkomentar "Nah kan ! Apa kataku?' sambil menggigit Korean egg toast hangatnya dengan puas.






You May Also Like

0 komentar

Laman