Korea Trip The Series: Cheongwadae Sarangchae - Insadong - Gyeongbukgung Palace

by - April 25, 2017

Hari kedua di Korea jatuh pada hari Jumat. Dari jendela lantai lima tempat kami sarapan, saya bisa melihat warga Seoul berjalan bergegas dengan pakaian rapi menuju tempat mereka bekerja atau beraktivitas. Trotoar pejalan kaki yang lebar tampak padat, dipenuhi dengan orang-orang yang bersliweran, sementara ruas jalan protokol untuk kendaraan bermotor lebih tampak lenggang. Kebalikannya negara kita ya ?

Sementara kami menyantap sarapan yang selalu ada semacam telur dadar berisi sayuran dan minuman yogurt rasa banana yang segar dan enak sekali. Sembari makan saya dan suami membahas gambar presiden Korea Selatan yang terpampang di koran terbitan hari itu, tentu saja tulisan serta bahasanya tidak bisa kami mengerti sama sekali👅. Obrolan kami kemudian didominasi hubungan yang menegangkan antara Korut dan Korsel saat ini. Tiba-tiba suami memutuskan agenda untuk ke Cheongwadae Sarangchae (Susah sekali ya namanya ☺), tempat itu merupakan replika istana keprisidenan. Saya setuju dan sangat antusias. 

Perjalanan menuju ke sana dengan subway. Rutenya bagi kami membingungkan, apalagi di tanah air tidak terbiasa dengan mass trasport yang satu ini . 

Begini rute subway di Korea.


Bingung gak? Sama. Saya juga! Melihat pertama kali kepala saya sudah pening. Tapi untunglah, suami sempat mendowload versi aplikasi selulernya. Jauh lebih praktis serta friendly buat mata. Namun sebetulnya rute tersebut dihubungan dengan garis yang sama warnanya. Tinggal lihat di exit mana kita akan turun atau berganti subway. Tarifnya bisa dibayar cash atau bayar dengan card, berikut harga waktu itu :
  • 19 tahun ke atas Cash W1000 / Transportation Card W900
  • 13-18 tahun  Cash W1000 / Transportation Card W720*
  • 7-12 tahun Cash W450 / Transportation Card W450*
  • Anak - anak 6 years atau lebih muda - Free*.
Kami memutuskan membeli transportation card karena mengingat beberapa hari ke depan masih mengandalkan moda transportasi ini. Subway di korea sepertinya merupakan transportasi favorit penduduk. Beberapa kali naik sering sekali penuh, setiap exit juga ramai dan banyak gerai dari brand international hingga lokal yang semua barangnya lucu-lucu. Pantas saja jalan-jalan di atas tampak lebih lenggang, ternyata kebanyakan orang berkumpulnya di bawah tanah. Oiya, setiap exit satu dengan yang lain jaraknya jauh. Jadi kita akan sering olah raga jalan sehat deh bila di Korea. Pantas ya penduduknya langsing langsing ☺. Untuk menuju Cheongwadae Sarangchae kami menaiki MRT line 3.

1. Cheongwadae Sarangchae
Tempat yang namanya lumayan susah bagi lidah Melayu merupakan replika istana kepresidenan. Area sekitar tempat itu sangat secure, banyak polisi - polisi Korsel hilir mudik dan mengawasi.  Saya takjub juga melihat betapa patuhnya pengguna jalan di depan area bangunan ini, menjalankan kendaraannya dan berhenti bergiliran sesuai arah jarum jam. Sementara polisi berdiri tegak tanpa bergeming sedikitpun pada setiap pos penjagaan. 

Saking "angkernya" sampai saya juga sungkan untuk mengambil gambar. Tidak heran penjagaan lebih ketat di sini, karena juga terdapat cheongwadae atau istana resmi presiden Korsel di dekatnya. Namun walaupun agak "angker", disana juga banyak coffee shop dan toko toko kue lucu-lucu lho. 

Cheongwadae Sarangchae merupakan tempat bersejarah bagi rakyat Korsel dan merupakan peninggalan dari presiden-presiden sebelumnya. Selain itu disana juga terdapat museum kebudayaan rakyat Korea. Wah..! Sungguh menakjubkan, untuk menjadi negara yang maju dan tertib seperti sekarang ini, Korsel telah melewati fase dijajah dan kemiskinan pada era sebelumnya. Sayang sekali apabila dinodai kembali dengan perang saudara atau apapun itu. 


2. Insadong
Setelah puas mengelilingi Cheongwadae Sarangchae, kami memutuskan ke Insadong. Pilihannya naik subway dengan line yang sama atau berjalan kaki karena (menurut) peta, lokasinya tidak terlalu jauh dengan tempat kami sebelumnya. Karena malu dengan ahjumma dan nenek-nenek yang tampak sangat lincah berjalan jauh kesana kemari, akhirnya kami memutuskan untuk berjalan kaki saja sekaligus menikmati semua hal baru yang akan kami lewati. Setelah saling berdebat beberapa kali dalam membaca peta, kamipun akhirnya sampai di Insadong.

Ada apa di Insadong ? Disini merupakan pasar souvenir. Ada banyak gantungan kunci, kaus-kaus, kipas dan semua yang berbau Korsel ada di pasar seni ini. Saya membeli sepasang pakaian traditional Korsel untuk Little Anya dan Little Christian serta beberapa oleh-oleh untuk teman dan keluarga. Di Insadong juga banyak restoran dengan dominasi masakan Korea dan backsound lagu K-Pop. Oiya. Selama di sana rasanya cuma sekali mendengar musik Barat milik Justin Timberlake, sisanya yang diputar musik K-Pop. Karena tepat jam makan siang, maka kami masuk ke salah satu resto yang ada di Insadong dan makan siang dengan menu nasi dan daging segar yang dibakar saat itu juga, rasanya enak sekali.
gbr2. menu nasi dan daging segar yang di grill di Insadong


3. Gyeongbukgung Palace
Gyeongbukgung Palace merupakan istana besar yang dibangun pada dinasti Joseon dan merupakan saksi dari penjajahan Jepang atas Korsel. Menurut keterangan yang ada pada famlet panduan, istana ini pernah dihancurkan oleh Jepang dan kemudian berusaha direstorasi kembali oleh pemerintah dan rakyat Korea. Museum nasional rakyat Korea juga berada di dalam area ini. Sayang sekali, kami datang saat istana akan ditutup, sehingga hanya sebentar berada di dalamnya. Istana tersebut tutup pada pukul 6 sore dan akan kembali dibuka pada pukul 8 malam.


Image result for gyeongbokgung palace
gbr.3 : Gyeongbukgung palace gate


Tidak jauh dengan keseruan hari pertama, hari kedua di Korea kami tutup dengan menikmati ayam goreng dan susu gingseng di dekat Seoul station, pada sore menjelang malam waktu Seoul. Menu yang sempurna untuk menutup hari, selepas menikmati sejarah jatuh bangun Korsel menjadi negara maju seperti saat ini.  

You May Also Like

0 komentar

Laman