Wisata ke Bali Aga: Desa Tenganan

by - Mei 01, 2017

Sebuah desa tetap teguh kukuh mempertahankan budaya asli leluhur mereka dan konsisten menerapkannya dalam setiap sendi kehidupan. Kukuh seakan tidak tergerus perubahan jaman. Hal ini dapat kita jumpai dalam Bali Aga Desa Tenganan. Sebuah desa tua di Bali yang sudah ada di Pulau Dewata sebelum Majapahit datang ke pulau tersebut. Kata Aga sendiri berarti, masyarat yang ada dalam desa tersebut, masih mempertahankan aturan traditional dalam pola hidup, bentuk rumah, kegiatan keagamaan maupun kegiatan sosial masyarakatnya.

Sudah lama kami ingin mengajak anak-anak ke Desa Tenganan. Sebagai "misi" mengenalkan wisata alam dan budaya. Seiring mereka dewasa kelak, kekayaan budaya tanah air sendirilah yang menjadi nilai tambah. Sering saya berpikir, di jaman anak saya besar nanti, rata-rata anak seusia mereka akan mahir bermain piano, karena sedari kecil ketrampilan ini yang sering diasah oleh orang tua jaman sekarang (termasuk saya sendiri ☺☺), namun sedikit yang menguasai gamelan atau kulintang atau apapun alat musik traditional. Padahal justru kekhasan tersebut yang akan menjadi value mereka kelak. Ah..! Namun memang tidak mudah bertahan dalam perubahan jaman bukan? Maka, berangkatlah kami ke Tenganan demi misi mulia orang tua terhadap anak-anaknya. ☺.

Sebetulnya ini kali kedua saya ke sana. Sedangkan suami yang lahir dan besar di Bali sudah beberapa kali ke Tenganan. Mengingat dia yang paling berpengalaman, maka kami angkat sebagai guide dalam trip kali ini. Bagi anak-anak ini merupakan pengalaman pertama mereka.

Jarak tempuh dari Denpasar sekitar 2 jam. Tenganan terdapat di kecamatan Manggis di Kabupaten Karangasem. Sebuah kabupaten paling timur dari pulau Bali. Untuk menuju kesana dapat menyewa kendaraan bermotor. Jalan yang dilalui dari Denpasar memang didominasi jalur luar kota atau bypass, walaupun melewati bypass, terdapat juga titik-titik macet. Ini terjadi karena jalur tersebut juga digunakan bagi pengendara lain yang akan menuju Ubud, Taman Safari maupun pelabuhan Padang Bai di Karang asem. 

Berangkat pagi dari Denpasar sangat dianjurkan bagi yang akan ke Tenganan mengingat kemungkinan macet tersebut. Kami berangkat dari Denpasar pukul 7 dan sampai ke Tenganan pada pukul 9 pagi. Matahari belum begitu tinggi. Begitu sampai di kecamatan Manggis, maka papan petunjuk arah desa tersebut akan mudah dijumpai. Ikuti saja petunjuk arah, kalaupun bingung maka GPS juga akan sigap membantu. 

Untuk masuk ke Tenganan tidak diperlukan tiket namun diminta untuk menyumbang sukarela dan mengisi buku tamu. Menurut penuturan bapak petugas, sumbangan diperuntukkan untuk pengembangan desa. Dekat dengan gerbang masuk, terdapat pameran photo-photo yang melukiskan aktivitas warga Tenganan. Kebanyakan adalah moment warga saat melakukan perang Pandan. Photo-photo yang terdapat di galeri tersebut bagus dan begitu sarat seni.

Lepas dari galeri photo, kita akan disuguhi perkampungan yang asri dengan bangunan yang terbuat dari kayu dan beratapkan ijuk. Apabila diperhatikan, bangunan menghadap ke arah yang sama semua. Tepat di tengah-tengahnya terdapat bangunan lain yang diperuntukkan sebagai banjar atau balai desa, terdapat juga balai bengong yaitu semacam tempat duduk-duduk warga dan Pura desa. Warga Tenganan bermata pencaharian dengan menenun. Tenunan khas Tenganan disebut tenun gringsing. Sedangkan yang laki-laki bertani dan kerajinan tangan.

gbr 1 : Perkampungan di desa Aga Tenganan.

Aktivitas warga saat itu berjalan seperti biasa. Tampaknya mereka sudah terbiasa dengan kedatangan para turis yang berlalu lalang. Ada juga pengrajin yang duduk di depan rumah sembari melakukan aktivitas. Kami pun mendekati salah satu dari mereka dan melihat apa yang sebetulnya mereka kerjakan. Ternyata, mereka sedang membuat lukisan dan juga mengukir aksara Bali pada daun lontar dan bambu sebagai media. Little A rupanya tergoda untuk mencoba, dan bapak pengrajin yang baik hati itu pun mempersilahkan sekaligus dengan telaten mengajari. Beliau sempat menawarkan hasil kerajinan, namun kami menolaknya dengan sopan. Kami hanya memberikan biaya untuk kursus kilat Little A menulis aksara Bali.

gbr 2. Little A mencoba menulis aksara Bali sementara Little C penasaran dengan daun-daun lontar.
gbr3. Berphoto bersama warga desa di depan rumah sekaligus tempat menenun.

Sementara hari semakin panas dan matahari bersinar dengan teriknya. Usai melihat wanita-wanita Tenganan menenun, kami pun duduk di salah satu Balai Bengong yang menjual makanan serta minuman dingin. Suami menanyakan kepada warga desa Tenganan yang juga sedang duduk-duduk di situ, kapan tahun ini upacara perang Pandan dilakukan. Warga desa menjelaskan bahwa perang pandan dilakukan pada bulan kelima atau sasih lima dalam penanggalan desa adat Tenganan. Pada tahun 2017,  jatuh pada tanggal 13 Juni kalender Masehi. Sebelumnya pada tanggal 12 Juni juga dilakukan upacara sebagai rangkaian perayaan tersebut. Oiya, kalender masayarakat desa Tenganan berbeda dengan kalender Bali pada kabupaten lainnya.

Sayapun menanyakan apa sebetulnya makna dari perang pandan itu sendiri. Pemuda tersebut menjelaskan bahwa tradisi perang pandan merupakan ungkapan rasa syukur kepada Dewa Indra yang telah memberikan desa Tenganan sebagai hadiah. Warga desa Tenganan memiliki kepercayaan yang berbeda dengan masyarakat Bali pada umumnya. Warga desa tersebut menganut agama Hindu Indra. Pemeluk agama Hindu Indra tidak membedakan umatnya dalam kasta, mereka juga menempatkan Dewa Indra sebagai dewa tertinggi.

gbr.4 : Photo perang pandan di galeri depan desa Tenganan.

Perang Pandan sendiri dilakukan dengan menggunakan pandan berduri tajam sebagai alat atau senjata untuk berperang. Pandan berduri yang digunakan adalah pandan yang sudah diikat sehingga berbentuk seperti gada. Peserta perang pandan juga menggunakan tameng. Tameng tersebut digunakan untuk melindungi diri dari serangan lawan. Tameng yang digunakan terbuat dari rotan yang sudah dianyam.

Perang pandan dilakukan dengan diiringi musik gamelan seloding. Seloding adalah alat musik di daerah Tenganan yang hanya boleh dimainkan oleh orang yang disucikan. Alat musik ini tidak boleh sembarangan dimainkan, melainkan hanya pada saat acara tertentu saja. Alat musik seloding sendiri memiliki pantangan yaitu tidak boleh menyentuh tanah. Perang pandan dilakukan oleh pemuda desa Tenganan dan pemuda di luar desa sebagai peserta pendukung. Anak-anak yang sudah mulai beranjak dewasa juga boleh mengambil bagian. Upacara ini juga dapat menjadi simbol seorang anak sudah beranjak dewasa. 

Sebelum melakukan perang pandan didahului dengan ritual mengelilingi desa sebagai wujud permintaan keselamatan kepada Dewa. Setelah mengelilingi desa, kemudian dilanjutkan dengan ritual minum tuak bersama. Tuak kemudian dikumpulkan bersama dan dibuang di sebelah panggung. Pemangku adat kemudian memberikan aba-aba tanda perang dimulai. Perang dilakukan berpasangan masing-masing dua orang, mereka menari nari dan menyabetkan pandan berduri ke tubuh lawan. Kemudian bergantian dengan pasangan lainnya begitu seterusnya. Setelah perang usai maka peserta yang luka diolesi dengan ramuan traditional yang terbuat dari kunyit dan rempah obat lainnya. Walaupun luka-luka namun mereka tidak menyimpan dendam terhadap yang melukai. Setelah perang usai dan diobati maka mereka melakukan sembahyang di pura dan sebagai ritual penutup semua melakukan makan bersama yang disebut megibung. 
gbr 5. Tempat untuk megibung selepas upacara perang pandan.

Sungguh tradisi yang sarat makna dan budaya. Kami sekeluarga begitu asyiknya mendengarkan penuturan pemuda dan para tua desa Tenganan sehingga tidak menyadari bahwa matahari hampir tenggelam dan kami sudah menghabiskan beberapa gelas minuman, beberapa buah gorengan dan buah segar. Waktunya untuk kembali ke Denpasar, membawa kisah dan pengetahuan  dari tradisi bangsa sendiri.
gbr. 6: Tempat kami dan warga desa mengobrol tentang budaya dan adat desa.


Biaya ke desa Tenganan dari Denpasar :
Transportasi  : tergantung harga sewa mobil
Tiket masuk   : Sukarela 
Makanan     : Rp. 110 ribu untuk 2 gelas kopi, satu gelas es teh, 2 botol aqua, 4 buah pisang ambon, 2 buah jeruk kintamani, sekitar 15 gorengan dan 2 piring tipat cantok.

Perlengkapan yang dibawa ;
> Topi, payung, sunblock, sunglasses karena cuaca cukup panas di sana.
> Uang secukupnya karena tidak ada ATM atau mesin EDC . Siapa tahu tergoda dengan tenun gringsing yang cantik
> Kamera. Desa Tenganan adalah desa yang fotogenic, anda pasti tergoda untuk banyak mengambil gambar.


You May Also Like

0 komentar

Laman