Korea Trip The series : Myeondong Cathedral dan Jeoldusan Martyrs Shirine

by - Mei 04, 2017

Hari ke empat kami di Seoul jatuh pada hari Minggu. Setelah menghabiskan malam minggu yang romantis pada hari sebelumnya, maka untuk hari minggu ini kami sudah merencanakan waktu untuk wisata rohani.

Saya dan suami memiliki kebiasaan yang unik saat travelling. Mengikuti ibadah di gereja lokal. Terlepas hal tersebut merupakan sikap religius untuk memenuhi kewajiban agama atau bukan. Kami selalu menyukai atmosfer misa dalam gereja, di negara tempat kami berkunjung.

Myeongdong Cathedral

Letak gereja ini dekat dengan hotel kami menginap. Sehingga cukup berjalan kaki untuk menuju ke sana. Sebelum mengikuti ibadat, tidak lupa untuk terlebih dahulu mengecek jadwal misa pada website. Katedral tersebut memiliki jadwal pelayanan misa yang cukup banyak, namun hanya satu yang memakai pengantar bahasa Inggris. Misa dalam bahasa Inggris berlangsung hari Minggu pukul 9 pagi.

Suhu cukup hangat waktu itu, sekitar 20 derajat Celcius. Sehingga saya berani untuk tidak memakai coat mengingat agak repot juga untuk menyimpannya di dalam gereja nanti.

Sesampainya di katedral, suasana sudah mulai ramai. Padahal baru pukul 8.30 pagi waktu Seoul. Banyak umat mulai berdatangan. Beberapa berkerumun untuk foto bersama sambil menggelar spanduk. Rupanya rombongan tour dari luar Seoul. 
Gbr.1 : Umat berdatangan untuk mengikuti misa 
Lonceng gereja berdentang tepat pukul 9 pagi. Semua umat sudah memasuki ruangan. Buku panduan ibadat ditulis dalam tulisan hangul, begitu juga nyanyian semua dilagukan dalam bahasa Korea. Ada hal yang menarik saat itu. Di atas buku panduan lagu terdapat selebaran yang menginformasikan camping rohani. Selebaran tersebut memakai Kim Tae Hee sebagai modelnya. Buat informasi, Kim Tae Hee merupakan artis negara gingseng yang didaulat menjadi wanita Korea paling cantik. Untunglah, bahasa pengantar saat khotbah menggunakan bahasa Inggris. Dilihat dari nama serta penampilannya, pastor yang memimpin ibadah sepertinya warga pribumi Korea.

Umat yang mengikuti misa waktu itu cukup banyak. Dibandingkan dengan di tanah air, misa berlangsung lebih cepat. Walaupun cepat namun juga tetap khusyuk. Saya tertarik dengan beberapa perempuan di Korsel. Mereka rupanya masih menggunakan mantilla atau penutup kepala berwarna putih. Menariknya, remaja juga terlihat banyak yang memakai mantilla tersebut. Tradisi gereja seperti ini yang di Indonesia sudah lama ditinggalkan.

gbr.2. Umat di dalam gereja.

Setelah misa selesai. Saya dan suami melihat toko kecil di samping gereja. Di sana terdapat beraneka ragam souvenir rohani dengan harga terjangkau. Teringat para orang tua di tanah air, kami membeli beberapa cindera mata sebagai oleh-oleh. Menariknya, patung orang kudus juga memakai baju adat Korea, begitu juga dengan tatanan rambutnya.

Sama halnya seperti di tanah air, setelah misa usai banyak umat yang menjajakan dagangan. Makanan yang dijual kebanyakan home made foods. Hasil masakan rumahan. Ah..! Ini mengingatkan saya tentang suasana gereja di tanah air. Terasa akrab dan familiar situasi seperti ini. Bahkan saat komunitas gereja mencari dana untuk sosial atau kegiatan hari raya, kami melakukan hal yang sama. Di katedral Seoul hasil bumi ikut dipasarkan di dalam bazar gereja tersebut. Bahkan banyak juga yang dari luar kota.

gbr.3. Bazar setelah misa berlangsung. Sama seperti di Indonesia.



Jeoldusan Martyrs Shirine

Di dalam katedral, saya sempat menyaksikan lukisan tokoh yang berpakaian adat Korea tempo dulu. Setelah saya baca informasinya, ternyata mereka merupakan martir - martir pribumi, bahkan salah satu telah dikanonisasi menjadi santo. Adalah pastor Andrew Kim Dae Geon yang merupakan pastor pribumi. Beliau merupakan salah satu pemula dari penyebaran agama Katolik di negara tersebut. Karena pemerintah sistem feodal kala itu tidak menyukai ajaran Katolik yang mengajarkan persamaan status sosial serta kedudukan manusia di mata Tuhan. Maka Pastor Andrew bersama ratusan pengikutnya di siksa secara sadis di bukit kecil dekat dengan sungai Han. Bukit tempat mereka disiksa itulah yang sekaran ini bernama Jeoldusan Martyrs Shirine.
gbr.4. Lukisan Santo dan Martir  di dalam katedral . Mereka menyebarkan kekristenan pertama kali di Korea.


Untuk mencapai ke sana. Kami naik subway dari Seoul Station menuju stasiun Hapjeong, bisa via subway 6 atau 2. Kebetulan saat itu kami naik subway 6. Selepas Hapjeong, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Berbekal "sate" keju panas (enak sekali lho rasanya) yang banyak dijual di stasiun, kami berjalan menyusuri Sungai Han yang airnya sangat bersih.

gbr. 5. Sungai Han. Ini membelah kota Seoul dan tetap jernih sekali ya airnya.

Kira-kira 500 meter, bukit yang kami tuju akhirnya tampak juga. Disanalah letak Jeoldusan Maryrs Shirine. Tempat ziarah sekaligus museum untuk mengenang pengorbanan para martir dan Santo Andrew Kim Dae Gon menyebarkan ke kristenan. Banyak orang yang berziarah pada saat itu. Sebetulnya juga terdapat museum, namun karena hari minggu maka museum tersebut tutup.
gbr. 6.  Bukit tempat ziarah Jeoldusan Martyrs Shirine.


Suasana khusyuk dan teduh terpancar dari tempat ini. Saking khusyuknya maka saya pun enggan untuk banyak mengambil gambar. Di dalam tempat ziarah, banyak terdapat patung-patung yang mengambarkan kisah misionaris santo Andreas Kim Dae Gon beserta para martir. Selain itu juga terdapat alat-alat yang digunakan untuk menyiksa, serta diskripsi penyiksaannya. Kami juga menuju kapel kecil dan turut berdoa bersama peziarah yang lain. Entah mengapa hari itu rasanya begitu dekat dengan Yang Empunya Hidup. 😊


You May Also Like

2 komentar

  1. Gara2 drakor jadi pengen banget jalan2 ke Korea hihi, tapi belum ada langkah dan rezeki.. Thanks for sharing ttg Korea-nya mbak :)

    BalasHapus
  2. Sama sama mbak. Semoga keinginan untuk ke Korea segera terwujud ya mbak :)

    BalasHapus

Laman