Korea Trip The Series : Petite France and Nami Island

by - Mei 07, 2017

Hari ke lima di Korea yang jatuh pada hari Senin ingin kami habiskan untuk mengunjungi Nami Island. Nami Island semula merupakan pulau buatan yang ditanami pohon maple. Pohon maple dengan daun berwarna merah tentu sangat cantik dan fotogenik. Ketenaran Nami Island diawali dengan boomingnya drama Korea Winter Sonata. Saya sendiri sebenarnya belum pernah menonton drama tersebut namun tergoda untuk mengunjungi Nami karena terpesona akan kecantikannya di foto-foto yang ada. Lagipula kebetulan kami juga sudah berada di Korea. 

Nami Island

Pulau Nami letaknya cukup jauh dari Seoul. Mengingat jarak tersebut, kali ini kami memutuskan untuk menggunakan jasa tour lokal untuk pergi ke sana. Pemesanan via website sudah dilakukan saat masih di tanah air. Kami memilih  Trazy tour asia dalam tour menuju Nami.

Untuk booking dilakukan minimal H-2 dari tanggal keberangkatan. Perjalanan menuju Nami Island menggunakan bis yang berisikan sekitar 20 penumpang. Para penumpang akan diantar dan dijemput melalui tempat-tempat yang telah ditentukan oleh tour, antara lain, Hongik University Station, Myengdong Station tepatnya di line 4 exit 2, Dongdaemun History & Culture Park Station. Hotel kami dekat dengan Myeongdong Station maka kami memilih untuk dijemput di tempat tersebut.

Biaya untuk trip ke Nami pada tahun 2016 sebesar $ 35.5 meliputi transportasi menuju ke sana serta tiket ferry dan tiket masuknya. Untuk tiket masuk anak-anak tentu berbeda yaitu sebesar $ 32. Pada jadwal keberangkatan penjemputan akan dilakukan pada pukul 8.20 pagi waktu Seoul. Maka kami pun sedari pagi sudah mempersiapkan diri.

Tepat pukul 7 pagi hari kami sudah bersiap di exit yang telah disepakati karena takut tertinggal oleh tour mengingat kedisiplinan warga Korsel. Ternyata, calon peserta yang akan dijemput di tempat tersebut bukan hanya berasal dari biro tour kami saja. Rupanya Myeongdong exit 2 merupakan tempat favorit para tour agent untuk menjemput calon penumpang mereka.

Wah..! Agak repot juga mencari papan namanya, karena tulisan dalam aksara latin ditulis dengan font kecil dibawah tulisan aksara Korea yang jauh lebih besar di atasnya. Setelah mengintip beberapa papan tour maka kami yakin bahwa kami belum terlambat.

Sekitar pukul 7.15 kami melihat mbak-mbak membawa papan nama dan menanyakan nama ke beberapa peserta tour yang menunggu. Begitu dekat dengan kami, ia menyebutkan nama suami dan saya sendiri. Nah ! Akhirnya datang juga tour pesanan. Suami menanyakan dimana tepatnya bis yang akan kami tumpangi (dalam bahasa Inggris). Anehnya mbak agent tour itu justru senyum-senyum dan balik bertanya "Bapak dan Ibu dari Indonesia ya?" Alamak ! Ternyata mbak agent tour juga sama-sama orang Indonesia yang kebetulan sedang menempuh kuliah di Korea. Ia bekerja sampingan sebagai tour guide. Kami semua senang karena bisa bertemu orang setanah air di Korea. Namun sayangnya ia tidak menjadi guide bagi kelompok tour kami.

Akhirnya bis yang ditumpangi berangkat menuju Nami Island. Letaknya benar-benar berada di luar kota Seoul. Kami melewati beberapa desa dan ladang. Sepanjang jalan daun pepohonan berwarna kuning atau merah. Udara begitu dingin saat itu, suhu di luar sekitar 9 derajat celcius. Celakanya saya hanya memakai sweater tanpa tambahan coat atau jaket. Saya pikir cuaca akan sama hangatnya dengan hari kemarin. Sungguh ! Pergi ke luar tanpa melihat ramalan cuaca merupakan hal yang fatal di negara lebih dari 2 musim.

Selain ke Nami, tour juga berhenti di Petite France. Ini merupakan miniatur Perancis di Korea. Jika Malaysia memiliki Colmar sebagai miniatur Inggris maka Korea memiliki Petite France. Petite France juga menjadi set di salah satu drama Korea. Pernah menonton drama My Love from Star? Nah..! Ini merupakan lokasi dimana Jun Ji Hyun disulap alien ganteng sehingga bisa terbang di tengah rumah mungil warna warni yang diterangi lampu-lampu nan romatis.


Petite France menurut saya tidak secantik di dalam drama. Bangunannya kurang terawat, atraksi boneka kayu yang menceritakan pinokio juga kurang menarik dan terkesan asal-asalan, rumput serta ilalang juga kurang dirapikan. Makanan yang dijual disana kurang enak apabila dibandingkan di Seoul. Satu-satunya yang menarik perhatian saya hanya view dari atas yang indah karena berwarna merah kuning musim gugur.

Tour guide meminta peserta untuk selfie bersama. Suami yang dari semula alergi dengan tour-tour-an cepat-cepat menarik tangan saya menjauh dan memilih mendekati penjual buah segar yang menjajakan dagangannya di pintu keluar. Pedagang ternyata bisa sedikit berbahasa Indonesia. Salah satu bukti  kalau orang Indonesia gemar berbelanja saat travelling hahaha.


Image result for petite france
gbr.1 : Pintu masuk PetiteFrance
                                           

Setelah dari Petite France perjalanan kembali dilanjutkan menuju Nami. Kira -kira 2 jam akhirnya kami sampai ke tujuan. Untuk sampai ke pulaunya, harus menggunakan ferry sebagai sarana transportasi. Namun jangan khawatir, ferry yang menuju ke sana selalu ada setiap 15 menit.

Untuk pembelian tiket masuk lumayan antre. Namun karena sudah termasuk dalam tour maka kami langsung saja antre ke tempat pemeriksaan karcis. Uniknya, Nami Island mencitrakan diri sebagai suatu negara kecil yang terpisah dari Korea. Tentu saja ini bukan hal yang nyata. Lebih untuk membuat pengunjung lebih terpukau. Maka Nami Island mewajibkan pengunjung yang memasukinya membawa "paspor". Ternyata paspor yang dimaksud adalah peta dan tiket masuk.

gbr.2. Ferry yang digunakan untuk penyebrangan ke Nami Island

Penyebrangan dari darat ke Nami Island sekitar 10 menit saja. Setelah mendarat kami pun segera disuguhi pemandangan daratan dengan pohon maple dan daun-daun merahnya. Daun yang gugur seperti red karpet menyambut wisatawan. Banyak binatang-binatang seperti tupai, burung dan kupu-kupu yang jinak berkeliaran dengan santai ke sana ke mari.

Nami Island tidak bisa lepas dari (lagi-lagi) serial drama korea. Kali ini drama Winter Sonata dengan pemerannya mendapat tempat di salah satu sudut. Disana terdapat lukisan besar Bae Yong Jon dan penggalan cerita dari drama itu. Beberapa wisatawan berphoto di instalasi seni tersebut. Beberapa pengunjung yang lain ada yang menyewa sepeda untuk mengitari Nami. Sementara saya dan suami lebih memilih mengelilingi Nami dengan berjalan kaki sambil sesekali mengambil gambar dari pulau kecil yang indah ini.

Gbr.3. Pohon maple dengan daun merahnya dan rumput dengan warna kuningnya di Nami Island.


Lelah mengelilingi Nami kami pun memasuki semacam foodcourt yang berada di dekat pintu keluar. Setiap stand diberi nama dengan menu utama yang mereka jual. Misalnya Asia maka mereka menjual masakan dari negara - negara Asia, beberapa banyak yang mencantumkan label Halal. Kami memasuki stand Asia dan memilih masakan India dengan maksud agar rempahnya dapat sedikit menghangatkan badan akibat salah kostum . Harga makanan di Nami cenderung lebih mahal daripada di Seoul. Bisa dimaklumi karena tempat wisatawan yang ramai dikunjungi. Ada penjual Bakpao kacang merah di pulau ini. Kulitnya begitu lembut dengan isian kacang yang manis dan gurih.




Gbr.4. Ahjumma Penjual bakpoa kacang merah yang enak sekali.




Waktu tak terasa beranjak sore, kami pun kembali antri untuk menunggu ferry mengantar ke tempat semula. Sekitar pukul 3 sore perjalanan ke Nami akhirnya berakhir. Dengan bis yang sama, kembali lagi ke Seoul tepat di stasiun tempat dijemput tadi. Sore hari di Seoul ternyata macet, sehingga sampai hotel pun pukul 8 malam. Walaupun capek namun kami bersyukur bisa berkunjung ke Nami Island dan melihat dari dekat pohon maple dengan daunnya yang berwarna merah.



Pengeluaran : 

1. Bookingan tour : 2 X : $ 35.5
2. Makan siang 2 orang : 83000 Won

Tips :
1. Baju sesuai musim
2. Sepatu atau sandal yang nyaman karena bakal jalan kaki lumayan jauh.
3. Kamera untuk berphoto di setiap sudut Nami Island









You May Also Like

0 komentar

Laman