Berburu Kuliner di Piacenza

by - Juli 31, 2017

Pada tahun 2009 saya memiliki kesempatan mengikuti suami dalam urusan pekerjaan di Piacenza, Italia. Tepatnya saya yang ngikutin dia, bukan diajak hihi. Karena ini urusan pekerjaannya, jadi agenda jalan-jalan mengelilingi benua Eropa hanya dalam mimpi alias tidak terjadi huhuhu. Aktivitas suami padat merayap dengan rute kantor dan hotel, bolak-balik begitu seterusnya. Untuk jalan-jalan seorang diri tentu saja saya takut, takut kesasar ! Maklum tahun itu hape belum canggih, GPS juga belum bisa bacanya. Untunglah di sela-sela pekerjaan kantornya kami masih memiliki waktu menjelajah Piacenza.

Piazza Cavalli


Piacenza memiliki jalan-jalan kecil yang berbentuk labirin di antara bangunan-bangunan tua nan elegan khas Eropa. Banyak gereja serta katedral atau yang disebut Duomo di sana. Salah satu Duomo yang besar adalah Cattedrale di Santa Maria Assunta e Santa Giustina atau disebut juga Piacenza Cathedral. Pusat keramaian Piacenza terdapat di Piazza Cavalli dan disana juga terdapat gereja kuno yang dibangun pada abad ke 12 yaitu San Fransesco Church. 


Jalan di Piacenza bak labirin



Beberapa hari sebelum kembali ke tanah air, kami meminjam sepeda yang merupakan fasilitas gratis di hotel tempat kami menginap. Kami menginap di hotel Ovest. Letaknya tidak begitu jauh dari pusat kota atau Piazza Cavalli. Selepas sarapan, kami menuju ke respsionis dan meminta rekomendasi tempat makan paling rekomen di Piacenza. Mengapa makan sasaran utama kami? Jawaban simplenya karena kami berdua suka makan. Jawaban teoritisnya karena dengan mencicipi menu khas dari suatu tempat, maka kami dapat mengetahui cita rasa dari kota tersebut. 

Add caption


Resepsionis merekomendasikan kami untuk menuju restoran steak yang bernama Da Marco Osterio Del Trentino. Wow! Hebat bener masih ingat nama restonya yang asing dan panjang banget ini. Jawabannya karena saya memiliki hobi foto-fotoin buku menu dari restoran hehehe. Jadi thanks God, ini membantu sekali untuk mengingat saat menuliskannya kembali. Ternyata resto ini terkenal banget lho. Coba googling aja, banyak orang yang memberi rekomendasi untuk mencoba makan disana saat ke Piacenza.

Dengan bantuan denah ala kadar buatan mbak resepsionis dan instruksi ala kadarnya, kamipun memulai petualangan untuk menemukan restoran yang dimaksud. 

Jarak dari hotel menuju ke restaurant tersebut sebetulnya tidak terlalu jauh. Namun karena jalannya yang berbelok belok bak labirin ditambah saat itu kami belum akrab dengan google map jadi rasanya lokasi ke tempat tujuan lumayan jauh. 


Sepedaan di Piacenza. Sesekali suami nampang di blog hihi


Saat itu merupakan penghujung summer di Piacenza, namun anginnya sudah mulai sejuk. Jadi acara bersepeda kami tidak terlalu berat akibat kepanasan. Entah mengapa waktu itu, semua kendaraan termasuk sepeda tidak diperbolehkan masuk ke dalam Piazza Cavalli. Kami pun memarkir sepeda kami di tempat yang telah disediakan, Untuk selanjutnya kami melanjutkan dengan berjalan kaki.

Sayang untuk dilewatkan kamipun memasuki gereja San Frensesco dan melihat arsitektur di dalamnya. 

Puas berkeliling gereja tersebut kami melanjutkan perjalanan menemukan si hidden treasure alias resto steaknya. Waktu itu sih repot banget karena mesti tanya sana sini dan kesasar beberapa kali karena merasa jalan semuanya sama. Namun kali ini saya sertakan alamat beserta google map tempat steak tersebut ya :




Begitu sampai disana. Ternyata resto yang dimaksud ditutup untuk umum karena sudah dibooking untuk acara pernikahan. Duenggg ! Kecewa banget. Tapi Puji Tuhan! Marco si pemilik restoran entah karena tersanjung mendengar kami jauh-jauh datang dari Indonesia hanya untuk mencicipi steaknya (agak hiperbola sih), atau karena kasihan  atau entah alasan apa, akhirnya memperbolehkan kami untuk lunch di tempat tersebut. 

Dalam steak house.


Bukan hanya memperbolehkan namun ia juga sibuk melayani dan berdemo bagaimana makan steak yang baik dan benar ala Piacenza lengkap dengan red winenya. 

Mr. Marco menunjukkan tahun wine


Rata-rata pemilik resto di Piacenza turun tangan langsung melayani pembeli. Dari memasak menu hingga menyajikannya. Terkadang dibantu anggota keluarga yang lain atau satu dua pelayan. Maklum juga sih, upah tenaga di sana kan mahal. Steak house ini juga sekaligus tempat tinggal keluarga mereka. Bangunannya bergaya klasik khas Eropa.


Mr.Marco yang baik


Mr.Marco unjuk kebolehan
Akhirnya! Perjalanan kami terbayar sudah. Steak tersebut memang enak sekali. Daging yang dibuat bukan daging sapi yang diiris seperti steak yang biasa kita makan melainkan seperti ditumbuk dulu dan dibumbui entah dengan apa yang pasti rasanya begitu menggugah selera. Marco dan istrinya yang baik bergantian menghidangkan makanan pembuka hingga desertnya. Ah...! Heaven on Piacenza.




Ah..hidden treasure in Piacenza
















You May Also Like

0 komentar

Laman