Travelling ke Vietnam

by - Juli 04, 2017

Mendengar nama negara Vietnam maka yang terbayang pertama kali adalah film Rambo. Film yang sampai sekarang belum pernah sampai selesai saya tonton saking ngeri dengan adegan perangnya, namun tergiur dengan cerita suami yang sempat bertugas di sana, maka ketika saya berkesempatan menghadiri seminar di Rainbow School Singapore (Rainbow School merupakan sekolah inklusi di negara Singapura khusus untuk anak autism) dan mendapati tiket murah ke Vietnam dari Changi kesempatan tersebut langsung saya gunakan. Jujur, motivasi saya traveling ke Vietnam adalah ingin menikmati pho dari negara aslinya. Saya tidak memiliki ekspetasi berlebih dengan city tour karena membayangkan bakal sama ruwet dan semrawutnya dengan Indonesia. 

Bersama dengan teman saya dokter Kika selesai mengikuti seminar di Singapore berangkatlah kami ke Ho Chi Minh. Ho Chi Minh juga dikenal dengan nama Saigon. Ini merupakan kota paling besar di Vietnam. Penerbangan dari Changi menuju Tan Son Nhat Airport - HCM City kira-kira 2 jam lamanya. Tan Son Nhat Airport jauh lebih sederhana dibandingkan dengan Ngurah Rai dan Changi. 

Tidak ada duty free shop sekelas Sephora atau Shilla disana. Jadi jangan memiliki rencana untuk membeli kosmetik high end untuk menghabiskan valas ya, sebaliknya toko-toko yang terdapat di airport ini kebanyakan toko cinderamata. Cinderamata berbahan baku ular banyak sekali dijual. Bagus-bagus juga ternyata, bahkan saya membeli dompet dan ikat pinggang masing - masing untuk suami dan orang tua.

Entah terbawa image negara komunis atau gara-gara film Rambo tapi waktu melintasi imigrasi Vietnam rasanya kok agak ngeri-ngeri sedap ya waktu itu. Petugas imigrasi memang tidak berbadan besar namun pandangan mata mereka..wuih ! Galak dan dingin. Puji Tuhan kami berdua berhasil masuk HCM City tanpa ada masalah namun beberapa orang terlihat digiring ruangan pemeriksaan khusus entah karena alasan apa.

Waktu menunjukkan pukul 8 malam waktu HCM city. Dari hotel tempat menginap kami mendapat fasilitas penjemputan dari bandara. Saat itu kami menginap di Pullman hotels. Lumayan membantu fasilitas ini, karena kami lihat bis bandara agak sulit ditemukan di bandara. Namun untuk taksi masih mudah ditemui di sana.

HCM city di waktu malam ternyata sangat ramai. Memang tidak banyak bangunan pencakar langit namun cafe-cafe dan tempat makan traditional terang dan ramai dengan pengunjung. Banyak terdapat taman kota lengkap dengan tempat bermain anak-anak. Selain itu sama dengan Indonesia, jalan dipenuhi dengan kendaraan roda dua yang melaju dengan kecepatan tinggi, salip sana sini lengkap dengan menekan klakson bergantian meminta jalan paling lapang. Pengemudi mobil dengan bahasa Inggris terbatas melakukan permintaan maaf atas suasana jalan yang macet dan semrawut namun saya dan Kika membalasnya dengan tertawa dan mengatakan bahwa di negara kami juga sama saja.

suasana HCM di waktu malam
Karena perut lapar, sopir pun mengantar kami ke kedai pho di daerah Bui Vien yang ia rekomendasikan. Ternyata rekomendasinya memang mantap. Phonya benar-benar enak dan kaldunya segar. Mienya dibuat bukan dengan mesin. Jadi rasanya kenyal dan lembut sekali. Selesai makan kami langsung menuju hotel karena badan sudah terasa capek. Terlebih esok harinya, kami sudah merencanakan untuk menjelajah dan tentu saja wisata kuliner di Saigon.



pho yang lezat banget.

Siapa menyangka awalnya saya memandang sebelah mata untuk mengunjugi negara ini namun ternyata justru di Vietnam merupakan traveling saya yang paling berkesan untuk kawasan Asia. Mengapa ? Jawabannya ada pada postingan selanjutnya. Nantikan ya :)

Info dan Tips :

1. Mata uang rupiah (IDR) lebih tinggi dibandingkan dengan Vietnam Dong (VND). RP.1 sama dengan 1.70 VND. Karena nilai tukar rupiah yang lebih tinggi maka harga-harga makanan di Vietnam lebih murah, namun untuk pakaian dan sepatu dengan kualitas yang sama harganya setara dengan di tanah air.

2. Gunakan fasilitas penjemputan dari bandara menuju hotel apabila tersedia. Transportasi umum seperti bis jarang terdapat di bandara terlebih malam hari. Taksi masih memungkinkan namun mesti antri dengan pengguna lainnya.

3. Hati-hati ketika menyebrang jalan raya. Kendaraan terutama roda dua malas untuk berhenti untuk memberikan jalan bagi pejalan kaki. Nah..! Kalau yang seperti ini sama persis dengan di Indonesia ya.


You May Also Like

0 komentar

Laman