Olá Luanda

by - Agustus 14, 2017

Tulisan tentang travel ke Luanda ini merupakan pengalaman dari suami tercintah :). Saya sendiri belum pernah pergi ke daratan Afrika. Karena suami tidak punya hobby menulis daripada pengalaman travelnya yang berharga ini bakal terlewat begitu saja, maka saya dokumentasikan dalam bentuk tulisan di blog.

Luanda itu berada di Afrika bagian Barat, dengan Angola sebagai ibu kotanya. Jauh banget ya? Lumayan, penerbangan dari Bali selama 16 jam dengan transit 3 jam di Dubai. Ngapain suami jauh-jauh ke sana? Kerja mencari sesuap nasi yang halal (halah). Jadi suami saya merupakan geologist dan kebetulan oil company mengadakan eksplorasi di Luanda. Jadi ia sering bolak balik Afrika - Indonesia. Kadang lebih sih kalau pekerjaannya ada beberapa kendala, seperti mungkin minyaknya ngumpet di mana gitu. Enggak deng...pokoknya begitulah, sebagai seorang awam saya tidak begitu paham bahasa teknisnya. Jadi secara romantis mending bayangin saya seperti Anya yang bersuamikan Reza Rahardian seorang pekerja rig di film Critical Eleven aja ya. Maunya...:) Walaupun pekerjaannya juga ga gitu-gitu amat sih.

Tulisan ini terbagi dari beberapa bagian. Semua dari sudut pandang suami. Jadi kata "saya" dalam tulisan menunjuk pada suami. Selamat menikmati.😊


Angola dari kantor


Saya bekerja sebagai geologist di oil company berbasis di Perancis. Ladang eksplorasinya tersebar di belbagai belahan dunia. Tugas utama menentukan titik eksplorasi dan memantau produksi migas di kawasan tersebut masih oke atau tidak. Kali ini negara tempat saya bertugas adalah Luanda. Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa Luanda secara geografis berada di Afrika Barat. Rasa exciting tentu memenuhi hati, seperti kebiasaan ketika saya pergi bekerja di tempat baru.

Luanda dan Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik, sehingga pengurusan dokumen, visa kunjungan harus dilakukan di Singapura. Sedangkan visa kerja harus dilakukan di Angola sebagai ibu kota dari negara Luanda. Kantor di Singapura juga berupa konsulat bukan kedutaan besar. Singkat cerita untuk mengurus visa kunjungan sayapun mesti bolak-balik Singapura Indonesia. Untunglah HRD perusahaan sudah mempersiapkan segala dokumentasinya. Walaupun sudah dibacking oleh perusahaan dunia, belum tentu visa kunjungan apalagi visa kerja pasti di approve ya. Alamat pengurusan visa ke Luanda di sini :

Three Temesek Avenue,#23-01/02, Centennial Tower, Singapore 039190

Akhirnya setelah melakukan berbagai tahapan, visa kunjungan saya pun berhasil disetujui. Berlaku HANYA selama 7 hari terhitung dari tanggal dikeluarkan. Itupun diwajibkan 3 hari saya sudah harus menjejakkan kaki di Luanda. Kalau tidak? Maka visa kunjungan pun hangus. Saya berterima kasih kepada HRD perusahaan yang sudah menyiapkan tiket saat itu juga begitu visa keluar. Malamnya saya segera terbang via SQ menuju Dubai terlebih dahulu untuk kemudian berganti pesawat Emirates menuju Quatro de Fevereiro International Airport, Luanda. Total penerbangan selama 16 jam tidak terhitung transit.

Kesan pertama begitu menjejakkan kaki di Quatro de Fevereiro International Airport adalah suram dan tua. Masuk akal karena saya berangkat dari Ngurah Rai, kemudian menuju Changi lalu Dubai International Airport yang kesemuanya merupakan airport kinclong. Begitu turun pesawat, belum juga melewati imigrasi, saya dipisah dari barisan lain. 


Bukan barisan imigrasi. Karena dilarang memotret. Ini merupakan salah satu sudut di airport.


Digiring masuk ke ruangan khusus. Ternyata di sana perwakilan perusahaan yang juga berbadan besar sudah duduk menunggu dan mendampingi wawancara kalau proses itu tidak bisa disebut interogasi. Petugas imigrasi lokal dengan badan besar dan tampang yang sama sekali tidak ramah mencecar dan menanyakan dokumen kerja. Beberapa jam berlalu. Akhirnya visa kerjapun sah saya dapatkan dan visa kunjungan di pasport sah juga diberi cap. Antonio salah satu staf kantor berkebangsaan Luanda yang ikut mendampingi sangat membantu proses ini. 

Di luar driver perusahaan sudah menunggu dengan mobil kantor. Dalam perjalanan Antonio dan Oscar sang driver membriefing bahwasanya jangan sekali-kali saya pergi keluar seorang diri tanpa mereka. Ya ! Angola merupakan negara dengan kriminalitas tinggi terlebih bagi pekerja asing.


Saya dan teman sekantor sesama dari Indonesia.

Kota Angola sendiri suasananya berdebu dan berpolusi. Kemacetan terjadi hampir di setiap ruas jalan utama. Rumah-rumah beratapkan seng namun mobil mewah bersliweran di jalan-jalan. Sebagai negara penghasil minyak, negara ini termasuk negara makmur di kawasan Afrika bagian barat. Hanya semua barang mereka impor dari luar bahkan termasuk sandang dan pangan. Jadi tidak heran apabila satu porsi makan siang di negara tersebut minimal Rp.500 ribu apabila dikurskan secara rupiah. 

Suatu kali saya ingin membelikan sambal botol untuk dicicipi oleh istri di rumah. Tahu berapa harganya? Rp.1.5 juta untuk sebotol sambal ukuran 250 cc. Tanpa pikir panjang sayapun urung membelinya. Hahaha. Walaupun semua kebutuhan termasuk makan dapat diklaim di kantor namun saya tetap saja merasa tidak sampai hati menghabiskan satu ikan bakar seharga Rp.800 ribu ukuran 300 gram, yang apabila di beli di Indonesia hanya Rp.70 ribu saja. Tapi mau tidak mau saya tetap meghabiskan uang sebesar itu setiap makan. Sebab tidak ada pilihan.


Satu porsi makan biasa seharga Rp.500 ribu. Hufff..!

Itulah mengapa kriminalitas tinggi di Luanda. Perusahaan tempat saya bekerja menyediakan satu pengawal bagi setiap ekspatriat yang bekerja di Angola. Mereka tidak mau mengambil resiko akan keselamatan karyawan asing yang bekerja di sana.

Suatu kali dalam perjalanan menuju kantor, saya melihat "bukit" keperakan yang cukup tinggi dan memanjang berkilo-kilo. Saya tidak memiliki ide apapun terhadap material "bukit" tersebut. Dengan rasa penasaran saya bertanya kepada Angus yang saat itu mendampingi, itu bukit atau apa? Angus tertawa dan mengatakan bahwa gundukan tinggi tersebut merupakan sampah. Shitt..! Padahal hampir saja saya meminta driver berhenti karena tertarik untuk berfoto di sana. 


Bukan berarti tidak ada tempat bagus di negara ini. Ilha du Mussolo merupakan pantai yang sangat cantik di negara tersebut. Kawasan tempat berkumpul ekspatriat dan restauran (yang tentu saja harga makanannya super selangit). Secangkir ekspresso di kawasan Ilha dibrandol Rp.200 ribu. Itulah mengapa akhirnya saya memutuskan membawa kopi luwak karena tidak sampai hati meminum kopi seharga ratusan ribu dengan rasa yang tidak istimewa. Yatch berjejer di pantai ini. Jumlah dan kemewahannya tidak kalah dengan di negara maju. 

Image result for ilha luanda
Ilha du Mussola


Pagi hari saat akan bekerja biasanya saya menyempatkan joging di joging track di Marginal Luanda lokasinya dekat dengan kantor. Hiburan sehat dan paling murah di negara tersebut (tersenyum miris). 

Beer lokal Angola

Rata-rata penduduk Angola tidak fasih berbahasa Inggris meskipun mereka bisa berbicara Portugal dan Perancis. Jangan harapkan senyum ramah dan pelayanan cekatakan dari penduduk lokal. Mereka tidak suka berbasa basi terutama kepada orang asing. Namun sekian lama saya bekerja di sana akhirnya saya memahami bahwa mereka memiliki hati yang tulus. Meskipun tidak gemar beramah tamah namun ringan tangan dan sangat tulus dalam membantu.


Olá (Hallo bahasa Portugal) Luanda! Untuk cerita seru lainnya di negara ini. Tunggu postingan selanjutnya ya.




Related image
Marginal Luanda







You May Also Like

2 komentar

  1. Bayangin seremnya di sana gimana ya kalo keman-mana harus dikawal. Pernah baca juga kisah di beberapa cerita perjalanan tentang pengalaman jadi korban kriminalitas di sana saat traveling :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ...memang serem mbak, kemana-mana mesti dikawal :)

      Hapus

Laman