Book #100 : Crazy Rich Asians

by - September 26, 2017

Ya Ampun ! Minggu ini hectic sekali. Psikotes datang silih berganti, belum juga jadwal konseling di beberapa sekolah dan mejadi volunteer dari himpunan psikolog untuk memberi trauma healing pada satu titik pengungsian. Titik pengungsian ? Iya ! Belakangan ini Gunung Agung naik level menjadi awas sehingga beberapa penduduk terpaksa mengungsi di daerah yang aman. Mudah-mudah Bali tetap aman ya. Mohon doanya selalu. But..! Saya bahagia kok diberi Tuhan pekerjaan yang saya sukai.



Untuk menjaga "kewarasan" saya di dalam menyelesaikan tugas, selain bermain dengan keluarga serta meet up dengan sahabat dekat saya, membaca dan menulis merupakan sarana agar saya tetap konsisten dalam tugas. 



Khusus resensi buku saya beri nama #100, tentu ada maksudnya ya. Target saya pada bulan September tahun berikutnya yaitu 2018 saya bisa membaca 100 buku sehingga hashtag-pun berubah menjadi #01. Semoga bisa. Harusnya sih bisa karena rata-rata saya membaca dua buku dalam satu hari yaitu pagi dan malam sebelum tidur. 



Kok ngotot begitu? Hmmm...! Selain yang sudah saya tulis alasan di atas, terdapat alasan lain. Saya ingin menularkan hobby membaca buku ke anak-anak saya dan lingkungan rumah khususnya. 

Budaya membaca selalu sehat. Menjadikan orang berpikir logis dan tidak selalu menjadi penonton yang pasif yang menerima mentah-mentah semua yang masuk ke dalam otaknya. Buku yang memberikan input bagus tentu saja yang dibaca. Tidak selalu bacaan yang temanya berat. Buku dengan tema-tema ringan justru berperan dalam menjaga otak untuk selalu awas dan tentu saja hiburan bagi jiwa kita. Setuju yaaa :)




Jadi untuk buku yang ke #100 ini saya akan menulis resensi singkat dari buku Kevin Kwan. Crazy Rich Asians:

Info buku :

Pengarang : Kevin Kwan
Judul : Crazy Rich Asian (English Version)/Kaya Tujuh Turunan (Indonesia Version)


Image result for crazy rich asians



Resensi :


Ketika Rachel Chu, dosen ekonomi keturunan Cina, setuju untuk pergi ke Singapura bersama kekasihnya, Nick, ia membayangkan rumah sederhana, jalan-jalan keliling pulau, dan menghabiskan waktu bersama pria yang mungkin akan menikah dengannya itu. Ia tidak tahu bahwa rumah keluarga Nick bagai istana, bahwa ia akan lebih sering naik pesawat pribadi daripada mobil, dan dengan pria incaran se-Asia dalam pelukannya, Rachel seperti dimusuhi semua wanita.


Related image


Di dunia yang kemewahannya tak pernah terbayangkan oleh Rachel itu, ia bertemu Astrid, si It Girl Singapura; Eddie, yang keluarganya jadi penghuni tetap majalah-majalah sosialita Hong Kong; dan Eleanor, ibu Nick, yang punya pendapat sangat kuat tentang siapa yang boleh—dan tidak boleh—dinikahi putranya.






Dengan latar berbagai tempat paling eksklusif di Timur Jauh—dari penthouse-penthouse mewah Shanghai hingga pulau-pulau pribadi di Laut Cina Selatan—Crazy Rich Asians bercerita tentang kalangan jet set Asia, dengan sempurna menggambarkan friksi antara golongan Orang Kaya Lama dan Orang Kaya Baru, serta antara Cina Perantauan dan Cina Daratan.




Review :

Kevin Kwan menggunakan gaya bahasa yang ringan dan mengalir, khas novel bergenre pop dan ringan. Walaupun saya berpendapat novel ini termasuk golongan satir alias penuh sindiran namun pembaca masih bisa senyum-senyum dalam menikmatinya.

Awalnya Kevin Kwan menyajikan pohon silsilah keluarga yang panjang pada halaman pertama buku tersebut. Kesannya pembaca mesti bolak-balik melihat bagan tersebut untuk memahami setiap tokoh, namun ketika sudah larut membaca, hal tersebut tidak perlu dilakukan karena pengarang menggambarkan setiap tokoh dengan sangat hidup dan memiliki karakter yang khas.


Image result for crazy rich asians


Pertengahan buku, cerita mulai bisa ditebak alurnya. Membaca nasib Rachel Chu mau tidak mau jadi membandingkan Cinderella. Tapi saya mau ekspektasi tinggi yang seperti apa lagi untuk novel bergenre chick lit dengan tema roman seperti ini? Toh cerita yang menghibur, alur yang ringan mengalir tidak membosankan dan selipan satir yang kocak sudah sangat menghibur saya ketika membacanya.












You May Also Like

4 komentar

  1. wah keren banget 2 buku dalam sehari bener2 inspiratif banget mba aku tahun ini aja kedodoran banget baca bukunya hehehe btw bukunya menarik pgn baca juga 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya sehari dua judul buku mbak, selesainya juga paling 2-3 harian juga hihi. Ijin Blog walking blognya ya mbak :)

      Hapus
  2. Keren banget bisa konsisten membaca buku plus update blog. Salam kenal :)

    BalasHapus
  3. Mudah-mudahan terus terjaga ya mbak konsistensinya hehehe. Salam kenal :)

    BalasHapus

Laman