Magang di Singapura

by - September 17, 2017

Menulis tentang Singapura agak sulit bagi saya, karena tulisan mengenai negara ini sudah banyak sekali bertebaran di internet. Orang Indonesia sangat familiar traveling ke sana. Dimana tempat menginap? Di sana mau ngapain aja? Akomodasi yang murah hingga jadwal MRT pasti mudah menemukan informasi mengenai ini. Bahkan, tanpa riset dan langsung traveling ke Singapura juga bukan hal yang rumit, karena banyak kemudahan fasilitas hingga informasi yang langsung didapatkan di negara itu.



Untuk tulisan kali ini, saya ingin berbagi pengalaman saat magang di salah satu sekolah inklusi di negara ini. Sekolah inklusi merupakan sekolah yang menerapkan sistem dimana siswa yang berkebutuhan khusus dapat mengenyam pendidikan sama dengan siswa lainnya. Diperlukan fasilitas ekstra pendukung bagi murid berkebutuhan khusus dan tenaga pengajar yang ahli dibanding dengan sekolah umum yang biasa.


Awal keberangkatan kami berlima di awali dari email dari salah satu dosen yang mendarat di inbox saya. Berisi tawaran untuk magang selama 10 hari di salah satu sekolah inklusi di daerah Mata Ayer, Singapura. 





Bagi kami mahasiwa pasca sarjana profesi psikolog tawaran seperti ini kerap datang menghampiri. Tergantung dari program studi apa yang diambil. Apabila mengambil psikologi klinis maka tawaran magang seringnya di RSJ atau klinik kejiwaan, begitu juga dengan program studi pendidikan seperti yang saya ambil, tentu tawaran magang ke sekolah atau klinik perkembangan anak. Kesempatan magang tentu menambah point keprofesian serta menambah pengalaman saat membuka klinik psikologi atau bekerja selepas kuliah profesi ini.

Add caption

Tidak ada gaji untuk magang. Kami, para mahasiswa disediakan akomodasi, tiket pesawat pulang pergi, sertifikat dan hal yang palinggg berharga yaitu ILMU dan PENGALAMAN.




Singkat cerita berangkatlah saya dan keempat teman ke Singapura via Malaysia karena ingin mengunjungi pameran buku terbesar di Asia Tenggara yang waktu itu diselenggarakan di Johor Baru. Pesawat kami mendarat di KLIA dan langsung kami sambung dengan kereta Kelana Jaya arah ke Johor Baru. 

Di Johor Baru kami menginap semalam untuk keesokan harinya berangkat via kereta ke Singapura dan turun di stasiun Woodlands. Ini merupakan kunjungan saya ke empat. Dua kali dalam rangka jalan-jalan, sekali dalam rangka berobat (yang kapan-kapan akan saya ceritakan juga di blog) dan yang keempat dalam rangka belajar sekaligus bekerja.




Sejak dari tanah air, saya sudah melakukan komunikasi yang aktif dengan Mr. Eeng Shang selaku penanggung jawab sekolah tempat kami akan magang. Sekolah tersebut didirikan pada tahun 1990 oleh Mrs. Cheong Yeoh yang juga selalu menemani kami selama di sana. Selama 10 hari, kami menginap di apartemen di daerah Yinhsun yang merupakan apartemen subsidi bagi warga negara Singapura. Apartemen tersebut kepunyaan dari Mrs.Yeoh.



Sekolah inklusi dibangun pada tanah seluas 500 m2. Diperuntukkan bagi siswa pra sekolah. Kalau di negara kita namanya TK kali ya. Bangunan sekolah tersebut terletak di dalam kompleks perumahan di mana Mrs. Yeoh sekeluarga tinggal. Tembok pembatas beradu dengan tembok kebun belakang rumah tinggal mereka. Seringnya kami berdiskusi di kebun belakang tersebut, sambil menikmati teh dan jajanan khas Singapura yang namanya saya lupa tapi bentuknya mirip sekali dengan kue lapis.




Murid-muridnya multi-cultural seperti penduduk negara ini. China, Melayu, India dan beberapa ras lainnya seperti Kaukasia. Guru-guru berjumlah 20 orang dengan dibantu para-teacher sekitar 25 orang. Sama seperti murid-muridnya, para pendidik juga multicultural. 

Sekolah ini menerapkan sistem kurikulum Montessori dimana murid dibebaskan untuk mau belajar apa. Jadi biasanya kan murid disodori dengan jadwal pelajaran yang reguler setiap harinya, namun untuk sistem Montessori murid-murid dibebaskan hanya mempelajari apa yang mereka inginkan saat itu. Misalnya si A ingin melukis sedangkan si B ingin belajar matematika dan guru bertugas membimbing mereka secara individu atau pada kelompok - kelompok kecil.


Saya dan teman-teman ikut aktif memberi bimbingan sama seperti para guru yang bekerja di sana. Hanya fokus kami lebih pada anak-anak berkebutuhan khusus yang turut belajar dan bemain di sekolah tersebut. Seperti yang saya yakini selama ini, pembeda antara anak normal dan tidak normal atau berkebutuhan khusus adalah range angka yang menunjukkan kurve populasi rata-rata atau kurve normal. Anak - anak yang di luar range tersebut dilabeli tidak normal atau berkebutuhan khusus. Padahal kenyataannya mereka sama lucunya dan sama berbakatnya dengan anak-anak yang dilabeli normal.




Ternyata Mrs.Yeoh dan Mr.Shang memiliki pemahaman yang sama dengan saya pribadi. Begitu juga dengan guru-guru yang berada di sekolah tersebut. Dalam suatu diskusi saya menanyakan apa yang ingin kamu capai dalam pendidikan anak-anak di sini? Beliau menjawab dengan suatu penjelasan yang sampai sekarang masih saya ingat. 




Di sini, di sekolah miliknya khususnya serta di negara Singapura secara umum, anak-anak difasilitasi dan diberi kesempatan sukses yang sama antara yang pintar dan yang kurang secara akademik, antara yang normal atau berkebutuhan khusus.





Pada pendidikan dasar, bagi anak-anak yang bagus secara akademik dan berhasil mendapat ijazah level A akan disiapkan sebagai calon engineering, dokter, guru, dosen dan pekerjaan sejenisnya, sedangkan bagi anak-anak yang tidak berhasil mendapatkan ijazah level A karena keterbatasannya tidak akan dipaksa untuk masuk universitas dengan tugas akademik yang bisa membuat mereka stress bahkan tidak berkembang. Anak-anak tersebut akan dibimbing dan dipersiapkan masuk ke sekolah kejuruan dengan pendidikan ketrampilan sesuai dengan bakat minat mereka. 




Anak-anak yang masuk ke pendidikan ketrampilan tersebut akan memakan waktu studi yang jauh lebih singkat dibandingkan dengan anak-anak yang masuk ke universitas. Selepas sekolah, pemerintah tetap mendukung dengan modal usaha. Sehingga saat anak-anak yang belajar di universitas menyelesaikan studinya misalnya dalam waktu 5 tahun, usaha yang didirikan oleh anak-anak yang bersekolah di pendidikan ketrampilan juga sudah mulai berkembang serta menghasilkan keuntungan. 




Pada tahun-tahun berikutnya misalnya 10 tahun dari kelulusan, mereka sudah mendapatkan posisi dan karir yang bagus begitu juga dengan anak-anak yang berwiraswasta mereka juga sudah memiliki usaha yang baik. Keduanya sama-sama sukses dalam usia serta waktu yang sama meskipun jalur yang diambil berbeda.





Mendengar penjelasan Mrs.Yeoh saat itu, mau tidak mau pikiran saya kembali ke tanah air dimana kesuksesan dalam mendidik masih terukur dalam standard yang sama dan seragam. Bahkan Einstein saja berpendapat: "Everybody is a Genius. But If You Judge a Fish by Its Ability to Climb a Tree, It Will Live Its Whole Life Believing that It is Stupid."😊
























You May Also Like

2 komentar

  1. Kalau di sini di mana tempat yang recomended Mbak, tentu dengan biaya yang terjangkau :)

    terima kasih

    BalasHapus
  2. Untuk bersekolah atau wisata mbak? Kalau family trip tentu Sentosa cukup recomended. Untuk biaya yang dikeluarkan rata-rata cukup tinggi karena Singapura memang termasuk negara dengan living cost yang tinggi di dunia :)

    BalasHapus

Laman