Switzerland : Menjelajahi St.Moritz dengan Bernina Express

by - September 25, 2017

St. Moritz merupakan wilayah pertama yang saya jajaki di negara Swiss selepas dari Italy. Pertimbangannya karena kota ini berbatasan dengan Milan sehingga cukup dekat sebagai pintu gerbang memasuki negara tersebut. Alasan lainnya, kota St.Moritz merupakan kota di kaki gunung Alpen sehingga kami tetap bisa menyaksikan salju karena pegunungan Alpen memiliki salju abadi. Sebagai penduduk negara tropis, bisa melihat, menyentuh serta bermain salju merupakan tujuan penting dalam traveling di negara 4 musim.




Switzerland atau Swiss sendiri walaupun negara kecil tapi untuk urusan destinasi wisata bisa dibilang nomer satu deh di Eropa. Idealnya menjelajahi negara ini tidak cukup hanya dalam satu minggu. Minimal 2 minggu berada di Swiss bila ingin merasakan keindahan negara serba on time tersebut. Kendalanya adalah tinggal selama itu di sana termasuk barang mewah karena memakan biaya yang sangat tinggi. Ya ! Swiss memiliki biaya hidup yang sangat mahal. Jadi tiga hari di Swiss yaitu di Geneva dan St.Moritz saja sudah begitu menyenangkan hati kami sekeluarga.




Berangkat dari Milan pagi - pagi buta, di musim dingin yang angin dengan suhu berkisar 10 degree C bukan hanya sekedar membuat bulu kuduk merinding namun lebih dari itu menusuk - nusuk tulang. Kami berempat. Saya dan suami serta Lil'A dan Lil'C mesti menunggu bus yang sudah kami pesan di halte yang telah ditentukan. Letak halte di depan kantor travel Zani Viaggi. Jalan Foro Bonaparte, Milan. Letaknya tidak jauh dari stasiun central Milano. Tiket sudah kami pesan jauh-jauh hari di website www.zaniviaggi.com. Biaya tur pada tahun 2014 sekitar USD.160.68/orang.



Tour bus tersebut berisi kurang lebih 25 orang dari berbagai negara yang akan mengikuti tour di St.Moritz. Bis untuk kemudian berganti dengan kereta Bernina Ekpress menuju ke lereng dan di atas St.Moritz. Rencanannya kami mengikuti tour dari Milan untuk kemudian pulangnya menginap di St.Moritz yang dilanjutkan ekplore Swiss selama beberapa hari.




Bus pun keluar dari kota Milan menuju ke arah utara, perjalanan didominasi oleh pemandangan hijau yang menyenangkan apalagi ketika menyusuri sisi Lago di Como (Como Lake). Danau Como (Lago di Como di Italia, juga dikenal sebagai Lario), adalah sebuah danau glacial di Lombardy, Italia. Memiliki luas wilayah 146 km ², membuatnya sebagai danau terbesar ketiga di Italia, setelah Danau Garda dan Danau Maggiore. Dengan kedalaman 400 m (1.320 kaki)  menjadikannya salah satu danau terdalam di Eropa, dengan dasar danau lebih dari 200 meter (656 kaki) di bawah permukaan laut.






Banyak orang terkenal memiliki atau memiliki rumah di tepi Danau Como, seperti Matthew Bellamy, Madonna, George Clooney, Gianni Versace, Ronaldinho, Sylvester Stallone, Richard Branson, Ben Spies, dan Pierina Legnani. Danau Como secara luas dianggap sebagai salah satu danau paling indah di Eropa.



Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam, kami beristirahat di daerah yang bernama Morbegno untuk sekedar pergi ke toilet, minum kopi atau minum coklat panas yang rasanya enak banget. Daerahnya sepi, tenang dan dingin.




Dari tempat ini perjalanan dilanjutkan melalui via Stelvio, Sandrio menuju Turino Dari Sandrio menuju Turino pemandangan di kiri kanan jalan sungguh menakjubkan. Perkebunan anggur sebagai bahan dasar Wine yang sangat terkenal di Italy berada di sisi kiri dan kanan jalan.



Tanaman anggur itu ditanam di punggung pegunungan berbatu. Menurut cerita tour leader, bahwasanya jaman dulu ketika perkebunan itu dimulai, orang-orang mengangkut tanah-tanah subur dari bawah gunung untuk diurug di pegunungan itu. Talut-talut yang dibangun dengan tujuan agar tanahnya tidak longsor ke bawah. Pembanguanan tidak boleh menggunakan semen karena membuat air tidak bisa meresap ke dalam tanah serta bisa menyebabkan longsor. Jadi hanya batu-batu yang disusun rapih dan kokoh. Wah! Benar-benar pekerjaan yang sangat keras sekali.



Akhirnya menjelang makan siang kamipun tiba di Turino. Kami diajak melihat sebuah gereja tua yang bernama Santuaria della  Madonna di Tirano. Konon kisahnya adalah ada seorang yang sakit keras di desa itu dan pada suatu hari ia di datangi oleh Bunda Maria yang memintanya untuk membangun sebuah gereja di tempat tersebut.



Dan ketika ia membangunnya seketika itu juga ia sembuh dari penyakitnya. Kisah itu berkembang dan dipercaya hingga saat ini. Menurut cerita banyak orang dari berbagai penjuru dunia datang ke tempat ini untuk memohon kesembuhan. Sayapun menyempatkan untuk berdoa. 




Setelah selesai makan siang kami segera menuju ke stasiun Dogana di Turino untuk segera naik kereta Bernina express ke St. Moritz. Perjalanan ini dimulai dari The Palm di Turino melewati jembatan spiral Brusio yang merupakan salah satu situs warisan dunia kemudian mendaki ke Bernina Pass diketinggian 2253 meter diatas permukaan laut, melewati Engadin Valley menuju St. Moritz.





Sesampainya di stasiun St. Moritz, kami berjalan-jalan terlebih dahulu di downtown kota ini yang lumayan ramai dengan turis, maka tidak mengherankan jika sepanjang jalan dipenuhi oleh toko-toko dengan brand-brand terkenal. Mata uang yang digunakan di Swiss adalah Swiss Franch dan euro.



Selepas puas mengelilingi downtown, kami kemudian naik ke lereng St.Moritz. Untuk naik dapat menggunakan lift atau eskalator. Enak ya naik gunung tanpa mesti capek-capek jalan kaki hihi. Antrean lift lumayan panjang, kamipun memutuskan menggunakan eskalator. Stroller Lil'C kami putuskan untuk naik ke atas terlebih dahulu menggunakan lift barang. Sedangkan kami menuju ke atas menggunakan eskalator yang tingginya kira-kira 15 lantai. 






Di tengah-tengah perjalanan, kira-kira masih 10 lantai lagi tingginya, tiba-tiba tangga eskalator terhenti. Padahal listrik menyala. Entah ini perbuatan iseng menekan tombol off, orang yang naik terlebih dahulu atau kerusakan sistem. Kami mesti berjalan tertatih-tatih dengan menggendong anak-anak. Di belakang kami, keluarga bule Amerika lebih parah lagi. Mereka mesti mengendong dua anak kembarnya sekaligus membawa stroller. Belum lagi kedua anaknya mesti digandeng. Tak heran terdengar sumpah serapah keluar dari mulut mereka. Mengutuki tempat ini. Untunglah, lift kemudian kembali berjalan normal.





Sampainya di atas kamipun menikmati pemadangan cantik yang tertutup salju. Anak-anak bermain bola salju dengan anak-anak lain yang berada di tempat tersebut. Sebenarnya kami juga ingin mencoba bermain ski namun urung karena Lil'C tampak kedinginan. Akhirnya kami mencari cofee shop dan memesan coklat panas dan cake swiss yang enak. Di dalam cafe terasa sangat hangat.




Pukul 16.30 kami berkumpul kembali di tempat yang ditentukan untuk peserta lain kembali ke Milan menggunakan bus yang tadi meninggalkan kami di Turino. Sementara kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan shuttle bus menuju hotel yang telah kami pesan untuk lebih lama berpetualang di Swiss. Kapan-kapan akan saya tulis juga di blog ini. 😊



































































You May Also Like

2 komentar

  1. Mbaa, asli hebat banget sih udah berani bawa anak buat long-haul flight! I will definitely go to your page kalau udah berani jalan jauh sama anak-anak... hahaha. Anyway, salam kenal yaa :)

    BalasHapus

Laman