Nyepi getaway: Bandung #day 3

by - Maret 18, 2018

Setelah hari pertama dan kedua di Bandung dilalui dengan sukacita, hari ketiga harapan kami juga dapat dilalui dengan hal yang seru.

Rencananya kami akan mengisi hari ke tiga ini dengan mengunjungi gunung Tangkuban Perahu. Pukul 6.30 pagi harapannya kami sudah meluncur ke sana supaya tidak terlalu terik di puncak. Tapi apa daya, harapan tinggal harapan karena anak-anak terlambat bangun. Ya sudahlah! Perkara kecil jangan dibesarkan supaya hati tetap bahagia. Tul gak?

Jadi pukul 8.30 WIB akhirnya kami baru berangkat. Di perjalanan ibuk mulai mendongeng tentang legenda Sang Kuriang dan Dayang Sumbi dengan sisa-sisa dongeng yang teringat. 





Tujuannya supaya Lil'A dan Lil'C lebih excited. Ternyata ingatan si ibuk banyak salah. Bapaknya juga tidak banyak menolong karena alurnya lebih kacau. Tumpang tindih dengan legenda Roro Jongrang. Untung sekali driver yang kami panggil om akang mampu meralat dengan baik dan benar. Fiuh..!

Jalan menuju ke Tangkuban Perahu berkelok kelok. Tapi ternyata juga tidak terlalu jauh dengan pusat kota Bandung.




Udaranya agak sejuk namun matahari sangat terik. Topi dan pakaian tidak terlalu tebal dianjurkan dipakai disana. Masker juga dapat dipersiapkan karena bau belerang menyengat tajam.

Terdapat undakan untuk menuju ke atas kawah, namun kami tidak memilih menaiki sebab dari parkiran mobil pun kawah gunung sangat jelas terlihat.




Bagi saya yang sudah melihat kawah Ijen, maka Tangkuban Perahu tidak terlalu spesial. Sehingga kami hanya sebentar di sana dan turun setelah mengambil beberapa foto.




Terlebih lagi banyak pedagang asongan yang hiruk pikuk berebut menjajakan dagangan mereka. Jadi keasyikan melihat panorama menjadi terganggu.

Tujuan kami berikutnya ialah Dusun Bambu. Awalnya saya sedikit under estimate tempat tersebut. Ah! Paling hanya kebun bambu artifisial yang dilengkapi foodcourt.




Ternyata, perkiraan saya meleset. Dusun Bambu bukan sebatas itu. Tempatnya sangat luas dan bersih, banyak tempat bermain anak-anak dengan harga tiket yang masuk akal.








Wahana bermain juga bersih. Selain itu pilihan tempat makan sangat lengkap di sini. Ada yang "di atas" pohon, ada yang sekedar foodcourt, ada yang di pinggir situ atau telaga dengan saung-saung yang private, ada yang resmi ala fine dinning, bahkan ada yang mengapung di atas telaga. Pilihan kami di pinggir telaga dengan saung yang nyaman dan privasi.


Salah satu toilet di Dusun Bambu. Menggantung. Kreatif ya

Harga di sana juga masuk akal. Memang kita diharuskan memilih menu paket baru bisa memilih menu porsi kecilnya. Tak mengapa karena harga juga masih masuk akal.

Di dusun bambu kami menghabiskan waktu berjam-jam. Bersyukur kami datang bukan pada saat hari padat pengunjung. Tentunya tempat ini sangat penuh pengunjung dan antre untuk setiap spot.






Meski hari sudah beranjak sore namun kami masih memiliki energi untuk ke Farm House sebagai destinasi selanjutnya. Tiket masuk Farm House bisa ditukarkan dengan segelas susu sapi segar.




Di tempat ini banyak spot foto bagi yang hobby berfoto karena bangunan di desain seperti gedung-gedung di Holland serta terdapat juga tiruan rumah Hobbit.





Bahkan terdapat penyewaan kostum ala noni Belanda. Saya teringat Colmar di Malaysia ketika berkunjung di Farm House. Anak-anak tidak begitu antusias begitu juga dengan kami, sehingga kurang lebih setengah jam kami memilih keluar dari Farm House.




Kalau Dusun Bambu yang sebelumnya dikunjungi menurut saya lebih bagus dibandingkan Petite France serta Nami Island di Korsel, maka Farm House tidak demikian. Tempat ini kurang begitu menarik bagi kami sekeluarga.

Ditambah lagi gelas plastik bekas susu segar gratis banyak yang dibuang sembarangan oleh pengunjung. Padahal banyak tersedia tempat sampah lho. Aduh! Gemes rasanya melihat budaya serampangan seperti itu.




Kami juga tipe yang malas berfoto diatur berbagai gaya, terlebih dengan memakai kostum di tengah udara yang terik menyengat. Oh tidakkkk! Kami tidak sanggup hahaha. Inilah mungkin yang menambah Farm House kurang mengasyikkan. Namun bagi yang menyukai aktivitas selfie atau foto kostum maka Farm House wajib untuk dikunjungi.






Selepas dari Farm House kami pun menuju Jl. Riau untuk berbelanja di distro-distro. Saya sih tidak belanja karena baju perempuan lebih menarik di Bali namun untuk baju laki-laki dan anak-anak pilihannya sangat beragam dengan desain yang menarik. Di situlah saya kalap membelikan baju untuk suami serta anak-anak.

Tak terasa hari pun beranjak malam, setelah seharian explore Lembang kamipun menutup hari dengan menikmati batagor di seputaran jl.Riau tersebut. Batagornya enak dan berbumbu mantab. Sesuatu yang sempurna untuk menutup hari.










































You May Also Like

0 komentar

Laman